MEDIA MAKASSAR – Kepulauan Sangkarrang di Kota Makassar, yang resmi berdiri sebagai kecamatan termuda sejak 2017, perlahan menemukan arah masa depannya. Kecamatan dengan luas hanya 54,23 hektare ini, terbagi atas tiga kelurahan—Barrang Lompo, Barrang Caddi, dan Kodingareng—yang masing-masing berdiri di atas pulau-pulau kecil dengan denyut kehidupan masyarakat pesisir.
Sebagian besar penduduknya masih menggantungkan hidup pada laut, baik sebagai nelayan maupun pengrajin perahu. Data mencatat, jumlah penduduk Sangkarrang sekitar 14 ribu jiwa, menjadikannya kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah di Makassar. Namun dari keterbatasan itulah, lahir semangat untuk membangun wilayah kepulauan sebagai wajah depan maritim Makassar.
Camat Kepulauan Sangkarrang, Andi Asdhar, menegaskan optimismenya, Sangkarrang tak boleh hanya dikenal sebagai kecamatan termuda, melainkan juga sebagai kawasan yang mampu menggerakkan potensi bahari untuk kemajuan bersama.
“Sangkarrang memiliki laut yang kaya, budaya bahari yang kuat, dan masyarakat yang tangguh. Dengan dukungan semua pihak, saya yakin kepulauan ini bisa menjadi simpul kemajuan maritim Kota Makassar,” ujarnya belum lama ini.
Sejak terbentuk, tantangan terbesar Sangkarrang adalah keterbatasan akses infrastruktur dan pelayanan publik akibat letaknya yang terpisah dari daratan utama Makassar. Namun, pemerintah kecamatan terus mengupayakan penguatan layanan dasar, pemberdayaan ekonomi nelayan, serta pengembangan sektor wisata pulau yang berkelanjutan.
Andi Asdhar percaya, dengan kolaborasi antara pemerintah kota, masyarakat, dan dunia usaha, Sangkarrang bisa tampil bukan hanya sebagai halaman belakang Makassar, melainkan garda depan yang memandang langsung ke laut luas Nusantara. “Kita ingin menjadikan Sangkarrang sebagai etalase kemaritiman Makassar,” pungkasnya. (*)








